DELI SERDANG
Ketika kemacetan dan parkir semrawut kerap memantik emosi hingga nyaris berujung baku hantam, para kader Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri (FKPPI) justru memilih turun ke jalan.
Tanpa upah, tanpa fasilitas, mereka menata parkir kendaraan di kawasan Tanjung Morawa demi satu tujuan: ketertiban dan kenyamanan bersama.
Langkah sukarela itu disambut antusias oleh masyarakat pengguna jasa parkir. Bukan tanpa alasan. Selama ini, parkir di emperan toko dan pinggir jalan kerap menjadi sumber masalah, kendaraan bersenggolan, kaca spion hilang, kecelakaan saat hendak keluar parkir, hingga cekcok antar pemilik kendaraan yang nyaris berujung kekerasan.
“Kami sering mendapati pemilik kendaraan hampir baku hantam karena parkir sembarangan. Karena itulah kami berinisiatif membantu keamanan dan ketertiban. Alhamdulillah, masyarakat menerima dengan baik,” ujar salah satu kader FKPPI di lokasi.
Tak hanya menata parkir, para relawan juga kerap membantu kendaraan mogok, mendorong mobil yang tak bisa distarter, hingga menjaga kendaraan masyarakat selama mereka berbelanja.
Aksi kemanusiaan itu melahirkan simpati mendalam dari masyarakat.
Sebagai bentuk terima kasih, sejumlah pengguna parkir dengan sukarela memberikan uang receh sekadar untuk membelikan air minum bagi para relawan yang berjibaku di bawah terik matahari.
Namun niat tulus itu justru memunculkan persoalan baru.Sebagian pemilik toko, ritel, dan swalayan dilaporkan melarang masyarakat memberikan bantuan sekecil apa pun kepada relawan FKPPI.
Larangan itu menuai kekecewaan dan dinilai mencederai rasa keadilan sosial.
“Mereka para pemilik toko jangan melarang orang-orang yang berinisiatif membantu keamanan dan menata parkir kendaraan kami. Memangnya kalau ada kendaraan kami hilang atau rusak, pemilik toko peduli dengan nasib kami?” tegas Pak Wahab, pengendara Yamaha XSR, dengan nada kecewa.
Nada serupa juga disampaikan Sri Wahyuni, pengendara Honda Vario. Ia mengaku kini merasa jauh lebih aman meninggalkan kendaraannya sejak ada relawan parkir FKPPI.
“Kami tidak pernah diminta bayaran. Tapi wajar dong kalau kami ingin membelikan air minum. Kendaraan kami dijaga, kami merasa aman,” ujarnya.
Pengguna kendaraan roda empat pun mengamini hal tersebut. Seorang pemilik Mitsubishi Xpander BK 12XX XXX mengaku, tanpa kehadiran relawan, parkir di badan jalan justru kerap memicu kemacetan dan pertengkaran.
“Kalau tidak ada mereka, pasti ribut. Sekarang arus lalu lintas lancar, emosi juga reda,” katanya.
Fenomena ini menyingkap ironi di tengah masyarakat: ketika relawan bekerja dengan niat tulus menjaga ketertiban, justru muncul pembatasan dari pihak-pihak yang seharusnya ikut bertanggung jawab atas kenyamanan lingkungan usahanya.
Aksi FKPPI di Tanjung Morawa kini bukan sekadar soal parkir, tetapi telah menjadi simbol kepedulian sosial.
Peran relawan FKPPI dinilai menjadi potret nyata kepedulian sosial sekaligus cerminan semangat gotong royong yang mulai langka di tengah padatnya aktivitas masyarakat perkotaan.(red)



















