Mark-Up Perencanaan? Empat Paket BPBD Gayo Lues Ramai Disorot

MEDAN AREA

- Redaksi

Minggu, 21 Desember 2025 - 00:27 WIB

50138 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gayo Lues  (20/12/2025) — Empat paket jasa konsultasi perencanaan di lingkungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, tengah menjadi sorotan. Total anggaran yang dikucurkan dari Dana APBD mencapai lebih dari Rp 1,2 miliar. Besarnya alokasi dana untuk pekerjaan berjangka waktu singkat menimbulkan tanda tanya, terutama di tengah situasi pemulihan pascabencana yang masih jauh dari kata tuntas.

Merujuk data dari Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kabupaten Gayo Lues, empat paket tersebut meliputi:

– Perencanaan Teknis DI Cempa: Rp 279.999.000
– Perencanaan Teknis Tanggul Banjir Rerebe: Rp 279.999.000
– Perencanaan Teknis DI Cinte: Rp 279.999.000
– Perencanaan Teknis Tanggul Uyem Beriring: Rp 199.999.000

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tiga dari empat proyek tersebut memiliki nilai kontrak yang nyaris identik. Hal ini memunculkan dugaan bahwa ada pola pengaturan dalam proses pelelangan yang dilakukan.

Paket-paket tersebut disebut hanya memiliki masa pelaksanaan sekitar satu hingga satu setengah bulan. Namun alokasi anggarannya mencapai ratusan juta per item. Di tengah kondisi daerah yang tengah berbenah dari dampak bencana, kehadiran paket perencanaan bernilai tinggi namun minim informasi output-nya menimbulkan kekhawatiran tersendiri.

Munandar, seorang warga yang dikenal vokal terhadap isu-isu pengelolaan anggaran, menilai terdapat indikasi permainan lama dalam penentuan nilai proyek. Ia menyebut kemiripan angka dan waktu pelaksanaan yang singkat sebagai sinyal adanya praktik mark-up.

“Nilainya hampir sama, masa kerja pendek, sementara dokumen dan output-nya tidak jelas. Ini bukan sekadar salah hitung, tapi pola. Pola yang berulang. Ini ciri pekerjaan yang biasa dimainkan,” ujarnya.

Ia menyebut bahwa praktik semacam ini cukup umum ditemukan di proyek-proyek pemerintah daerah, terutama saat pengawasan longgar dan internal pengendali diabaikan. Menurutnya, BPBD sebagai lembaga yang seharusnya fokus pada penyelamatan dan mitigasi risiko bencana, tidak semestinya dimanfaatkan sebagai ruang mengejar keuntungan pribadi atau kelompok.

“Bencana, yang seharusnya menjadi duka bersama, malah dijadikan alat untuk menggelembungkan anggaran. Kalau ini dibiarkan, bukan mustahil kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pemerintah runtuh,” tegasnya.

Sejauh ini, belum ada keterangan resmi dari pihak BPBD Gayo Lues terkait tujuan, hasil akhir, maupun urgensi dari keempat paket tersebut. Tidak jelas pula siapa konsultan pelaksana yang memenangkan tender, dan seperti apa hasil kerja yang dihasilkan selama masa pelaksanaan yang singkat.

Ketiadaan informasi resmi dan sikap tertutup dari pihak terkait justru menambah kuatnya persepsi publik tentang adanya dugaan penyalahgunaan anggaran. Jika benar terjadi, hal ini bukan hanya pelanggaran etika pengelolaan keuangan publik, tetapi juga berpotensi mengarah pada pelanggaran hukum.

Pengamat pengadaan barang dan jasa menyebutkan, kemiripan nilai pagu hingga ke digit angka merupakan pola klasik yang digunakan untuk menghindari ambang batas pengadaan tertentu agar tidak perlu dilelang secara terbuka atau agar tetap terlihat “aman” dalam administrasi.

Pihak Inspektorat Daerah, aparat penegak hukum seperti Kejaksaan Negeri maupun Kepolisian, didesak untuk segera melakukan penelusuran atas paket-paket tersebut, dengan memeriksa dokumen perencanaan, metode perhitungan harga, serta latar belakang penyedia jasa yang terlibat.

Selain menelusuri pihak penyedia, investigasi juga perlu diarahkan pada pengambil kebijakan di internal BPBD Gayo Lues. Siapa yang menyusun nilai pagu? Atas dasar apa angka-angka itu ditetapkan? Apa dasar urgensi perencanaannya? Dan yang lebih penting: sejauh mana manfaatnya untuk masyarakat?

Gayo Lues baru saja menghadapi bencana besar. Warga masih membenahi rumah, anak-anak masih belajar di tenda darurat, dan petani menanti saluran irigasi yang belum pulih. Di tengah kondisi ini, publik menuntut pengelolaan anggaran lebih jernih, tertib, dan berpihak kepada kebutuhan nyata di lapangan.

Namun bila ternyata anggaran kebencanaan justru menjadi ruang kompromi dan bancakan segelintir pihak, bukan tak mungkin krisis kepercayaan akan muncul lebih besar dari bencana alam yang sesungguhnya. (TIM)

Berita Terkait

PT. Pelita Nusa Perkasa Diduga Memakai Material Ilegal untuk Pekerjaan Proyek-proyek di Kabupaten Gayo Lues, LSM KOREK Desak Polda Aceh Bertindak
Pemilihan Urang Tue Bermasalah, Kepala Desa Pulo Gelime Dilaporkan atas Dugaan Penyalahgunaan Wewenang
Kapolres Gayo Lues: Penghargaan Merupakan Komitmen Pimpinan untuk Menumbuhkan Budaya Apresiasi di Lingkungan Polri
Panwaslih Gayo Lues Gelar Penguatan Kelembagaan, Perkuat Sinergi Jelang Pemilu Berkualitas

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 18:33 WIB

Marjani Ajukan Keberatan ke KPK, Kuasa Hukum Nilai Penetapan Tersangka Tidak Sah

Jumat, 10 April 2026 - 16:09 WIB

Semarak HBP Ke-62, Bazar Ditjenpas Sumut Diserbu Warga dan Tampilkan Karya Warga Binaan

Kamis, 9 April 2026 - 09:22 WIB

Sambut Hari Bhakti Pemasyarakatan 2026, Bapas Kelas I Medan Laksanakan Tes Urine Pegawai, Seluruhnya Negatif Narkoba

Rabu, 8 April 2026 - 23:20 WIB

Mayjen TNI Doddy Triwinarto Diamanahkan Negara Jabat Pangdam XV/Pattimura, Kasad Tekankan Kepemimpinan Solutif

Minggu, 5 April 2026 - 14:57 WIB

Suasana Penuh Kekeluargaan Warnai Halal Bi Halal IKAL SMAN 6 Medan, Zam Zam Jamilah Turut Hadir

Jumat, 3 April 2026 - 05:35 WIB

Panen 100 Kg Pakcoy, Lapas Sibolga Dukung Ketahanan Pangan melalui Pembinaan Warga Binaan

Minggu, 29 Maret 2026 - 19:09 WIB

Serap Aspirasi Warga, Imam Musanto Tinjau Rencana Hotmix Jalan di Situ Pitara Siwagandu

Minggu, 29 Maret 2026 - 18:47 WIB

Temu Kangen dan HBH IKAL SMPN X/XII Sukses, Mayjen Dody Triwinarto Pesan Laksanakan Terus HBH dan Tingkatkan Silaturahmi

Berita Terbaru