Deli Serdang —
Keresahan mulai meluas di tengah masyarakat Kabupaten Deli Serdang, khususnya di wilayah Tanjung Morawa, setelah maraknya dugaan penipuan berkedok permainan daring Mobile Legend yang menjerat berbagai kalangan.
Fenomena ini menjadi perhatian serius para tokoh pemuda yang menilai praktik tersebut telah meresahkan dan merugikan masyarakat secara luas.
Perwakilan tokoh pemuda Deli Serdang, Osama mengungkapkan bahwa modus penipuan tersebut diduga terus berkembang dengan berbagai cara yang semakin sulit dikenali masyarakat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber, praktik penipuan itu tidak hanya berkaitan dengan penjualan diamond murah atau jasa joki permainan, namun juga menyasar jual beli akun permainan.
Salah seorang sumber yang mengikuti perkembangan kasus ini, Osama Husen, menyebut bahwa pola penipuan yang beredar turut memanfaatkan transaksi akun permainan sebagai sarana menjebak korban.
“Jual beli akun itu, Om. Modusnya juga termasuk,” ungkapnya saat dimintai keterangan terkait maraknya penipuan yang terjadi di wilayah tersebut.
Para pelaku diduga memanfaatkan media sosial serta aplikasi percakapan untuk mendekati calon korban dengan menawarkan akun permainan dengan level tinggi, skin langka, maupun peringkat permainan yang sudah tinggi.
Setelah korban melakukan pembayaran, pelaku diduga langsung menghilang tanpa menyerahkan akun yang dijanjikan atau memberikan akses palsu yang kemudian diambil kembali.
Informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa korban berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda yang aktif bermain game hingga orang tua yang berusaha memenuhi keinginan anak mereka.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena menunjukkan bahwa praktik penipuan tersebut telah menyasar masyarakat luas tanpa memandang usia.
Tokoh pemuda Osama menilai maraknya kasus ini diduga dipicu oleh rendahnya literasi digital masyarakat serta tingginya minat terhadap permainan daring yang kini menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda.
Situasi tersebut diduga dimanfaatkan pelaku untuk meraup keuntungan dengan cara melanggar hukum dan merugikan masyarakat.
Sejumlah warga Tanjung Morawa mengaku mulai resah karena korban terus bertambah dan sebagian mengalami kerugian yang tidak sedikit.
Beberapa korban bahkan disebut enggan melaporkan kejadian yang dialami karena merasa malu atau menganggap kerugian yang dialami sulit untuk dikembalikan.
Hal ini dinilai semakin memperluas ruang gerak pelaku untuk menjalankan aksinya.
Tokoh pemuda Deli Serdang Osama mendesak aparat penegak hukum agar segera melakukan penyelidikan secara serius dan menyeluruh terhadap jaringan penipuan yang diduga telah terorganisir tersebut.
Mereka juga mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi digital serta tidak mudah tergiur dengan penawaran yang tidak masuk akal.
Selain itu, masyarakat dan para tokoh pemuda juga mengimbau orang tua agar lebih mengawasi aktivitas digital anak-anak mereka.
Pengawasan keluarga dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menekan jumlah korban dalam praktik penipuan berbasis teknologi.
Situasi ini diharapkan dapat menjadi perhatian bersama agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya keamanan dalam bertransaksi secara daring.
Tokoh pemuda menegaskan bahwa apabila praktik penipuan tersebut terus dibiarkan, bukan hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem digital yang seharusnya memberikan manfaat positif.(tim)



















